
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkanlah kami pertama-tama untuk menyampaikan ucapan selamat datang kembali kepada segenap saudara-saudari kita, para tamu Allah yang baru saja menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci dan kembali ke tanah air. Kedatangan Bapak/Ibu sekalian adalah penanda sudah tertunaikannya salah satu rukun Islam yang agung, sebuah perjalanan spiritual yang penuh pengorbanan, dengan pengharapan untuk meraih haji mabrur. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah Bapak/Ibu semuanya, mengampuni dosa-dosa, dan menjadikannya sebagai hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan.
Kemabruran haji bukanlah sekadar gelar atau berakhirnya serangkaian ritual ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kemabruran haji adalah sebuah permulaan, titik tolak menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: Musim haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan bertengkar di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscata Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat ini secara jelas menyebutkan bahwa bekal terbaik dalam haji adalah takwa. Dan takwa ini bukanlah sesuatu yang selesai seiring dengan selesainya ibadah haji, akan tetapi takwa justru harus terus dipupuk, dirawat, dan diwujudkan dalam setiap sendi kehidupan pasca haji.
Kemabruran haji justru terletak pada keberlanjutan dan dampak positifnya dalam kehidupan sehari-haripasca haji. Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, yang didalamnya tidak ada perbuatan dosa, dan yang paling penting, ia ditandai dengan perubahan diri menjadi lebih baik, lebih taat, dan lebih istiqamah. Rasulullah bersabda: “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana cara kita merawat kemabruran haji, atau bagi kita yang belum berhaji, bagaimana kita bisa mencontoh semangat kemabruran itu? Ada beberapa poin penting yang perlu kita renungkan.
Pertama, Perubahan Akhlak yang Lebih Baik. Seorang haji mabrur akan menunjukkan perubahan signifikan dalam perilakunya. Tidak ada lagi perkataan kotor (rafats), tidak ada lagi perbuatan fasik (fusuq), dan tidak ada lagi pertengkaran (jidal) sebagaimana yang dilarang saat haji. Ia akan menjadi pribadi yang lebih sabar, pemaaf, lembut tutur katanya, dan penuh kasih sayang kepada sesama. Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menunaikan haji ke Baitullah ini, tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, niscaya ia akan kembali (suci) seperti hari ia dilahirkan ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, Semangat Ibadah yang Berkelanjutan. Selama di Tanah Suci, para jamaah merasakan nikmatnya beribadah di Masjidil Haram, melaksanakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan berzikir tiada henti. Semangat ibadah inilah yang harus “dibawa pulang”. Shalat berjamaah tetap terjaga, tilawah Al-Qur’an menjadi rutinitas, sedekah tak pernah putus, dan amal-amal kebaikan lainnya terus meningkat. Ini adalah tanda istiqamah, yaitu konsistensi dalam melaksanakan kebaikan. Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Ahqaf: 13)
Ketiga, Kepedulian Sosial dan Kontribusi Positif. Haji mengajarkan kita tentang persatuan, kesetaraan, dan kepedulian. Jutaan manusia dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu tujuan, saling membantu, dan merasakan kebersamaan. Nilai-nilai ini harus termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, membantu yang membutuhkan, aktif dalam kegiatan sosial, dan menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik dalam masyarakat.
Keempat, Mengingat Allah dalam Setiap Keadaan. Inti dari takwa adalah senantiasa mengingat Allah. Setelah haji, seorang muslim seharusnya semakin kuat imannya, senantiasa merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Ingatan akan Ka’bah, Arafah, dan segala ritual haji seharusnya menjadi pengingat yang kuat untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Merawat kemabruran haji berarti merawat kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Ini adalah tugas seumur hidup. Bagi mereka yang telah berhaji, jadikanlah pengalaman suci itu sebagai pemicu untuk terus istiqamah. Bagi kita yang belum berhaji, mari kita tanamkan semangat takwa, perbaiki akhlak, tingkatkan ibadah, dan perbanyak kebaikan, seolah-olah kita sedang bersiap menyambut panggilan Allah. Karena sesungguhnya, esensi haji adalah perjalanan hati menuju Allah, dan perjalanan itu tak pernah berakhir selama hayat dikandung badan.
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk merawat iman dan amal saleh kita sepanjang hayat, sehingga setiap langkah kita menjadi bagian dari ibadah yang mabrur di sisi Allah.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
