July 11, 2026

Ikhtiar dan tawakkal

Di dalam Islam kita mengenal istilah ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar berarti berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu yang baik dan halal. Sedangkan tawakal berarti menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah setelah usaha dilakukan secara maksimal.

Islam adalah agama yang mengajarkan kerja keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk malas. Di dalam Al Qur’an Allah berfirman: Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menjelaskan bahwa hasil yang diperoleh manusia sangat berkaitan dengan usaha yang dilakukannya. Orang yang ingin berhasil harus mau berjuang. Orang yang ingin mendapatkan ilmu harus mau belajar. Orang yang ingin rezekinya berkah harus bekerja dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah sendiri adalah teladan dalam bekerja keras. Beliau berdagang sejak muda. Ketika hijrah ke Madinah, beliau menyusun strategi dengan matang: memilih waktu perjalanan, menunjuk penunjuk jalan, menyiapkan bekal, bahkan bersembunyi di gua Tsur agar selamat dari kejaran kaum Quraisy. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad melakukan ikhtiar terbaik, walaupun beliau adalah manusia paling mulia dan dijaga oleh Allah. Setelah usaha dilakukan dengan sebaik-baiknya, beliau tetap berserah diri kepada Allah. Inilah tawakal. Allah berfirman: Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (QS. Ali ‘Imran: 159)

Pada ayat tersebut Allah tidak langsung memerintahkan tawakal, akan tetapi Allah menyebutkan terlebih dahulu adanya tekad dan usaha. Artinya, tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Terdapat sebagian orang yang salah memahami tawakal. Misalnya: orang yang tidak mau bekerja lalu berkata, “Saya tawakal kepada Allah.” Pelajar yang malas belajar tetapi ingin lulus dengan nilai bagus. Petani yang tidak mau menanam tetapi berharap panen melimpah. Ini bukan tawakal, tetapi kemalasan. Rasulullah bersabda: Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah. (HR. Tirmidzi)

Hadits ini bermula ketika seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah, apakah untukaku lepaskan saja lalu aku bertawakal kepada Allah? Rasulullah menjawab, Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah. Artinya, usaha harus dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Mari kita melihat kisah para sahabat Nabi tentang ikhtiar dan tawakal. Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah kisah sahabat mulia, yaitu Umar bin Khattab. Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melihat sekelompok orang di Masjid yang hanya duduk-duduk tanpa bekerja.
Ketika ditanya, mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang bertawakal”.

Mendengar itu Umar marah lalu berkata, “Bukan! Kalian adalah orang-orang yang malas. Orang yang bertawakal adalah orang yang menanam benih di tanah, lalu setelah itu bertawakal kepada Allah.”

Perkataan Umar ini mengandung pelajaran besar bagi kita. Islam tidak menyukai kemalasan. Bahkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Rasulullah bersabda: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Karena itu seorang muslim harus memiliki semangat bekerja dan semangat berusaha.

Kisah lain datang dari sahabat Nabi yang sangat kaya dan dermawan, yaitu Abdurrahman bin Auf. Ketika hijrah ke Madinah, beliau datang tanpa membawa harta. Kaum Anshar menawarkan bantuan dan kekayaan kepadanya. Namun Abdurrahman bin Auf berkata: “Tunjukkan kepadaku di mana pasar.”.Beliau memilih bekerja dan berdagang. Dengan kejujuran dan kerja keras, Allah memberikan keberkahan luar biasa hingga beliau menjadi saudagar kaya raya yang banyak membantu perjuangan Islam. Inilah contoh ikhtiar, beliau tidak hanya berdoa, tetapi juga bekerja dengan sungguh-sungguh.

Setelah semua usaha dilakukan, selanjutnya kita berserah diri kepada Allah, karena terkadang hasil tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Ada kalanya sudah bekerja keras tetapi belum berhasil, atau sudah berusaha tetapi masih diuji kesulitan. Inilah pentingnya tawakal, dengannya membuat hati tenang dan tidak mudah putus asa. Allah berfirman:
Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. (QS. At-Thalaq: 3). Ayat ini memberikan harapan besar bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang beriman dan berserah diri kepada-Nya.

Mari kita jadikan hidup ini penuh dengan usaha yang halal, doa yang tulus, dan tawakal yang benar. Jangan mudah menyerah menghadapi kesulitan hidup. Karena sesungguhnya setiap usaha yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai ibadah di sisi Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang rajin berikhtiar, kuat dalam menghadapi ujian, dan benar-benar bertawakal kepada-Nya. Aamiin.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *