
Salah satu kewajiban terbesar seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah dengan benar. Tujuan hidup kita bukan sekadar mencari harta, jabatan, atau kesenangan dunia, tetapi untuk mengabdi kepada Allah ﷺ. Allah ﷺ berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh aktivitas hidup seorang mukmin seharusnya mengarah kepada ibadah dan mencari ridha Allah. Namun, ibadah tidak cukup hanya dilakukan dengan semangat atau niat yang baik. Ibadah harus dibangun di atas ilmu agar sesuai dengan petunjuk yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Ada tiga poin penting yang harus kita pahami mengapa beribadah itu wajib berlandaskan ilmu.
Pertama, Ibadah tanpa tuntunan ilmu yang shahih akan tertolak. Islam adalah agama yang sempurna. Sifat ibadah mahdhah atau ibadah ritual murni adalah tauqifiyah, yaitu tidak boleh dibuat-buat dan wajib mengikuti petunjuk wahyu. Berkreasi dalam ibadah tanpa dalil yang shahih justru akan merusak kemurnian agama.
Imam Ibnu Ruslan menegaskan: “Ibadah tanpa ilmu tertolak, tanpa ilmu kita tidak tahu mana yang membatalkan dan merusak ibadah kita. Nabi bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (H.R. Muslim).
Hadits ini menjadi rambu-rambu yang sangat tegas bahwa tanpa ilmu yang benar, seseorang bisa terjebak dalam perkara bid’ah atau perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama.
Kedua, Bahaya Ikut-ikutan (Taklid buta). Zaman sekarang, banyak orang beribadah hanya karena “ikut-ikutan” tren atau kebiasaan orang banyak tanpa tahu dasar hukumnya. Padahal, Allah sangat melarang kita melakukan sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang jelas. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa tidak boleh mengikuti apa yang tidak engkau ketahui (hanya ikut-ikutan). Akan tetapi kita diperintahkan untuk mengilmu, sehingga dapat memastikan kebenarannya.
Kenapa demikian? Karena sesungguhnya manusia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai bagaimana ia menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hatinya. Apabila dia mempergunakannya dalam perkara-perkara baik, niscaya akan memperoleh pahala, dan jika ia mempergunakannya dalam hal-hal buruk, maka dia akan memperoleh hukuman.
Ketiga, Ilmu adalah kompas kehidupan. Ilmu dapat diibaratkan seperti kompas, sedangkan amal ibadah adalah kapal. Kapal yang besar dan kuat sekalipun akan mudah tersesat apabila berlayar tanpa kompas. Demikian pula amal yang dilakukan tanpa ilmu. Walaupun dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bisa saja tidak sampai kepada tujuan yang benar, bahkan akan berpotensial terjerumus pada “lautan bid’ah”.
Dalam urusan dunia, mengikuti orang lain tanpa ilmu mungkin hanya menyebabkan kerugian materi. Namun dalam urusan ibadah dan aqidah, mengikuti sesuatu secara membabi buta tanpa dasar ilmu, taruhannya adalah masa depan di akhirat, karena amal yang dikerjakan tanpa ilmu akan tertolak.
Oleh karena itu, mari kita terus semangat hadir di majelis ilmu, memperbanyak bacaan yang bermanfaat, dan bertanya kepada para ulama. Semoga Allah ﷺ senantiasa membimbing kita untuk beribadah di atas jalan ilmu yang benar. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
