July 4, 2026

akhwat-tertunduk-sedih

Salah satu gelar yang diberikan oleh Allah ﷺ kepada manusia yang juga digunakan sebagai nama surat di dalam Al Quran adalah al insan. Kata al insan yang salah satunya bermakna “memiliki sifat lemah dan lupa” menjadi sebuah sifat yang selalu melekat pada diri manusia. Maka dari sifat itulah sesungguhnya manusia sangat mudah atau rentan untuk berbuat khilaf, bahkan jika tidak berhati-hati akan mudah meremehkan dan menganggap sepele suatu kemaksiatan.

Meremehkan sesuatu adalah pintu seseorang untuk masuk ke dalam dosa dan maksiat. Seseorang yang menganggap remeh suatu amal shalih maka ia akan mudah untuk meninggalkan amal shalih tersebut. Begitu pula seseorang yang menganggap remeh kemaksiatan maka ia pasti akan jatuh pada kemaksiatan yang lebih besar. Dalam Al Quran surat An Nur ayat 15 Allah ﷺ telah mengingatkan:
“Dan kamu mengira bahwa hal itu adalah sesuatu yang remeh, padahal di hadapan Allah itu sangatlah besar.” (QS An Nur: 15)

Ketika para ulama mengklasifikasikan dosa menjadi dosa kecil dan dosa besar, bukanlah berarti untuk meremehkan dosa kecil. Karena barang siapa yang meremehkan dosa kecil, maka akan terjerumus pada dosa yang lebih besar.

Kenapa demikian? Terdapat beberapa sebab yang dapat menjadikan dosa kecil itu dapat menjadi dosa yang besar, di antaranya yaitu:

Pertama, Dosa kecil yang dilakukan terus menerus (Al-Ishraar). Ulama Ibnul Atsir rahimahullah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud al ishraar adalah konsisten dan terus menerus melakukan perbuatan dosa atau maksiat. Sehingga perbuatan yang terus menerus melakukan dosa kecil dan niat untuk terus melakukan dosa kecil tersebut maka menjadikan dosa kecil tersebut dihukumi sebagaimana dosa besar. Rasulullah bersabda: “Berikanlah kasih sayang niscaya engkau akan disayangi, berilah maaf niscaya Allah akan mengampuni kalian. Celakalah orang-orang yang tidak memperhatikan aturan syariat dan tidak beradab dengan adab-adab syariat. Dan celakalah orang-orang yang berbuat ishaar, yaitu orang yang terus menerus di atas perbuatan dosa yang mereka lakukan sedangkan mereka mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Ancaman yang terdapat dalam hadits tersebut adalah ancaman yang sangat keras, yang tidak diberikan kecuali untuk pelaku dosa besar. Sehingga dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa dosa kecil akan mendapatkan ancaman yang sama seperti dosa besar, yang salah satunya disebabkan oleh al-ishraar atau melakukan dosa yang terus menerus.

Abdullah bin Abbas ra juga menjelaskan bahwa dosa kecil yang diulang ulang akan menjadi dosa yang besar. “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan istighfar.”

Kedua, Menganggap remeh perbuatan dosa (Al-Istishghaar). Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya setan itu telah berputus asa untuk disembah di bumi kalian ini, akan tetapi ia senang dengan hal kecil yang kalian remehkan.” (HR. Ahmad)

Imam Al Ghazali rahimahullah juga menjelaskan bahwa di antara sebab dosa kecil dapat menjadi besar adalah jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak merasa sedih karena dosa yang telah dia lakukan (al-istishghaar). Beliau juga mengatakan bahwa sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di hadapan Allah.

Adapun ketika seorang hamba menganggap remeh perbuatan dosa dari dalam dirinya, maka hal itu akan menjadi besar di hadapan Allah. Maka janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil, karena dosa yang kecil apabila selalu diremehkan akan menjadi dosa yang besar. Dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin itu melihat dosanya seakan-akan dia duduk di bawah sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (yang gemar bermaksiat) melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di depan hidungnya (lalu dia abaikan).” (HR. Bukhari)

Ketiga, Melakukan perbuatan dosa secara terang-terangan (Al-Mujaahrah).
Bergembira atau merasa senang melakukan perbuatan dosa adalah salah satu sebab dosa kecil dihukumi dosa besar. Kegembiraan seseorang atas perbuatan dosa yang dia lakukan akan memalingkan dirinya untuk merenungi dan memikirkan kemurkaan Allah atas dosa yang telah dilakukan. Sehingga dia pun tidak malu-malu lagi ketika melakukan dosa tersebut, yang pada akhirnya dia akan melakukan dosa tersebut secara terang-terangan (al-mujaaharah). Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seluruh umatku akan diampuni kecuali yang berbuat dosa secara terang-terangan. Sesungguhnya yang termasuk dalam berbuat dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan dosa di malam hari, kemudian pada pagi harinya Allah tutupi dosa tersebut (Allah tidak tampakkan pada pandangan manusia). Tetapi orang tersebut berkata: Wahai fulan, semalam aku berbuat demikian dan demikian. Padahal sungguh di malam harinya, Rabb-nya telah menutupi dosa yang dia lakukan, namun di pagi harinya dia sendiri yang membuka tutup Allah tersebut.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak adanya ampunan Allah bagi orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Selain itu, berbuat dosa secara terang-terangan adalah dosa besar yang menyebabkan datangnya hukuman yang sangat keras.

Marilah kita berhati-hati dengan dosa, sekecil apapun itu, karena dosa kecil adalah penyebab semua dosa besar. Iringi setiap kesalahan yang kita lakukan dengan taubat dan istighfar. Dari sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda: “Setiap anak keturunan Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang mengiringi kesalahannya dengan taubat.” (HR. Tirmidzi)

Demikian khutbah pada hari ini, semoga kita semua mampu menjaga diri kita dari perbuatan dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *