
Alhamdulillah, Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta Alam. Allah yang memberikan kasih dan sayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah untuk Rasulullah ﷺ, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman. Aamiin.
Ketahuilah bahwa taqwa adalah bekal terbaik. Maka, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan pelaksanaan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tanpa menunda-nunda. Ingatlah, bahwa takwa adalah karakter muslim sejati yang kelak menentukan derajat kita di hadapan Allah ﷺ.
Islam tidak hanya mengatur tentang rangkaian ritual saja, akan tetapi mengatur segala aspek kehidupan, termasuk di antaranya yaitu akhlak mulia. Maka, di antara salah satu misi Rasulullah diutus adalah untuk membangun pondasi jiwa manusia agar memiliki akhlak yang mulia.
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Hadits yang singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah menempatkan misi kenabian beliau pada karimah al-akhlak (akhlak yang mulia). Mengapa demikian? Karena akhlak adalah cerminan langsung dari apa yang ada di dalam hati. Seseorang tidak bisa dikatakan benar-benar memahami Islam jika lisannya masih tajam menyakiti saudaranya, jika tangannya masih gemar menzalimi sesamanya, atau jika hatinya dipenuhi dengan kedengkian.
Di dalam Al-Qur’an, Allah ﷺ memuji beliau dengan pujian tertinggi karena keluhuran akhlaknya. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4). Mari kita tanyakan pada diri kita, sudahkah kita meneladani akhlak Nabi ﷺ? Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang bagaimana keseharian Rasulullah, beliau menjawab: “Khuluquhul Qur’an” (Akhlak beliau adalah Al-Qur’an). Rasulullah ﷺ adalah “Al-Qur’an yang berjalan”, semua perintah kebaikan di dalam Al-Qur’an mewujud nyata dalam perilakunya, dan semua larangan keburukan dijauhi sejauh-jauhnya dari kehidupannya.
Beliau adalah sosok yang pemaaf. Ketika penduduk Thaif yang telah melempari beliau dengan batu hingga berdarah, beliau membalasnya dengan mendoakan kebaikan atas mereka. Beliau adalah sosok yang menyuapi seorang pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah dengan penuh kelembutan, padahal pengemis tersebut setiap hari mencaci maki nama beliau. Itulah keagungan akhlak beliau & indahnya ajaran Islam.
Mari kita amalkan ajaran Islam, di antaranya dengan menjadi teladan akhlak mulia bagi siapa pun. Marilah kita membiasakan perilaku mulia, di antaranya dengan cara:
- Memperbaiki Akhlak dalam keluarga. Kehidupan keluarga harus dilandasi dengan akhlak yang baik dan penuh kasih sayang. Dengan membentuk keluarga yang berakhlak mulia akan melahirkan generasi muslim yang mulia. “Dan bergaullah dengan mereka secara patut (baik).” (QS. An-Nisa: 19)
- Menjaga lisan dan jari. Akhlak mulia menuntut kita untuk selalu menyampaikan perkataan yang benar, jujur, tidak merendahkan, dan menghindari perkataan yang sia-sia atau menyakitkan. Gunakan media teknologi, apalagi media sosial, dengan bijaksana. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
- Kejujuran dalam bermuamalah. Islam yang indah tercermin dari bagaimana kita mencari nafkah. Kejujuran dan keadilan dalam menakar, menimbang, serta bekerja adalah cerminan iman yang kokoh. “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar.” (QS. Al-Isra: 35)
- Berlapang dada, pemaaf, dan menjauhi dendam. Dalam kehidupan bermasyarakat, masalah seringkali terjadi. Namun, seorang muslim yang berakhlak mulia akan memilih untuk memaafkan danmenyelesaikan masalah dengan bijaksana. “..dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
- Kepedulian sosial dan saling tolong-menolong. Di dalam Islam, kita diperintahkan untuk saling mendukung dalam segala bentuk kebajikan dan menutup pintu-pintu keburukan. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
