July 24, 2026

nikmat-di-tengah-dosa

Banyak orang menyangka bahwa ketika hidupnya terasa lancar, hartanya bertambah, usahanya maju, jabatannya naik, maka itu pasti tanda Allah ridha kepadanya. Padahal belum tentu, karena bisa jadi itu adalah istidraj. “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Ayat ini menjelaskan bahwa terkadang Allah memberi kelapangan dunia kepada orang yang terus berbuat dosa. Namun kelapangan itu bukan kemuliaan, melainkan jebakan sebelum datangnya azab. Rasulullah bersabda: “Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba padahal ia terus berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad)

Istidraj sangat berbahaya karena membuat hati menjadi lalai. Seseorang merasa aman dari murka Allah, ia terus melakukan dosa tetapi tetap sehat, tetap kaya, tetap dihormati. Akhirnya ia mengira Allah mencintainya. Padahal ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan banyaknya harta, jabatan, atau kemewahan dunia, melainkan ketakwaan.”Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu jangan sampai kita tertipu oleh nikmat dunia. Bisa jadi memiliki rumah mewah tetapi jauh dari shalat. Bisa jadi mempunyai usaha lancar tetapi penuh riba dan kecurangan. Bisa jadi terkenal tetapi gemar membuka aurat dan menyebar maksiat. Semua itu bukan jaminan keselamatan.

Di antara tanda bahwa seseorang masih berada dalam limpahan rahmat Allah ialah apabila hatinya mudah menerima nasihat, ringan untuk bertaubat ketika terjatuh dalam dosa, semangat dalam beribadah, serta memiliki rasa takut kepada Allah sehingga senantiasa berusaha menjauhi kemaksiatan. Hati yang demikian adalah hati yang masih hidup dan senantiasa mendapat bimbingan dari Allah.

Sebaliknya, hendaknya kita merasa khawatir apabila pada diri kita mulai tampak tanda-tanda istidraj, yaitu keadaan ketika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba, sementara ia terus tenggelam dalam kemaksiatan tanpa menyadari bahwa kenikmatan itu justru menjadi jalan menuju azab-Nya. Di antara tanda-tanda istidraj adalah:

  1. Semakin banyak melakukan dosa, tetapi hati tidak lagi merasa bersalah, seolah-olah kemaksiatan telah menjadi sesuatu yang biasa.
  2. Sulit menerima nasihat. Ketika diingatkan kepada kebenaran, justru muncul rasa enggan, marah, atau mencari berbagai alasan untuk membenarkan diri.
  3. Merasa bangga dengan kemaksiatan, bahkan menceritakan dosa-dosanya kepada orang lain tanpa rasa malu sedikit pun.
  4. Lalai dalam beribadah, namun tetap merasa hidupnya baik-baik saja sehingga mengira bahwa kelapangan hidup adalah tanda keridaan Allah.
  5. Merasa aman dari azab Allah. Padahal, tidak ada yang merasa aman dari makar dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Marilah kita segera bertubuh sebelum terlambat. Jangan menunggu musibah datang. Jangan menunggu sakit parah. Jangan menunggu ajal menjemput. “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Dan marilah kita memperbanyak syukur atas nikmat Allah dengan cara menggunakannya untuk taat kepada-Nya. Harta digunakan untuk sedekah, ilmu untuk dakwah, tenaga untuk ibadah, dan jabatan untuk amanah. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan justru menjauhkan kita dari Allah. “Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak ilmu kami.”

Semoga Allah menjaga kita dari istidraj, melembutkan hati kita untuk menerima hidayah, dan menggolongkan kita sebagai hamba-hamba yang bersyukur. Aamiin.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *