October 30, 2026

mentalitas-pemimpin-sesuai-risalah-islam

Dalam perspektif Risalah Islam Berkemajuan, sebagaimana ditegaskan dalam manhaj Muhammadiyah, keimanan kita dituntut untuk melahirkan amal shalih yang memajukan peradaban. Islam tidak menghendaki umatnya berpangku tangan. Islam hadir sebagai jalan hidup dinamis yang menggerakkan umat menjadi tangguh, produktif, serta berorientasi pada etos kerja yang unggul dan mentalitas pemimpin yang berintegritas. Allah berfirman: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap gerak langkah dan pekerjaan kita bukanlah hal yang sepele. Bekerja dan memimpin memiliki nilai ibadah dan pengawasan moral yang tinggi.

Agar kita mampu mewujudkan etos kerja dan kepemimpinan yang berkemajuan dalam kehidupan modern saat ini, setidaknya terdapat tiga poin utama yang patut kita renungkan dan amalkan bersama:

Pertama, Bekerja sebagai Ibadah dan profesionalisme (Itqan). Bagi seorang muslim, bekerja mencari nafkah dan mengabdi untuk kemaslahatan umum bukanlah beban duniawi semata, melainkan bernilai ibadah. Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah perwujudan syukur atas nikmat akal dan fisik yang diberikan Allah. Mentalitas Islam Berkemajuan menolak keras budaya kerja asal-asalan, malas, atau sekadar menggugurkan kewajiban. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai seseorang di antara kalian yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan itqan (profesional, tuntas, dan rapi).” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Di era persaingan saat ini, umat Islam tidak boleh tertinggal. Apa pun profesi kita, baik petani, pedagang, guru, karyawan, maupun pejabat, lakukanlah dengan standar kualitas terbaik, disiplin, dan terus mengasah kompetensi. Bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah, melainkan ikhtiar mempersembahkan karya terbaik bagi kemaslahatan manusia demi mengharap ridha Allah.

Kedua, Memiliki jiwa tanggung jawab dan kepemimpinan (Mas’uliyyah). Pondasi kepemimpinan Islam bermula dari rasa tanggung jawab pribadi. Rasulullah menegaskan bahwa setiap individu dari kita hakikatnya adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya, sebagaimana sabda Nabi: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pemimpin yang berkemajuan adalah pemimpin yang melayani, bukan yang ingin dilayani, pemimpin yang memberi keteladanan, bukan sekadar melempar instruksi. Kita dilatih untuk berani mengambil keputusan yang adil, jujur dalam mengemban amanah, serta berani membela kebenaran tanpa rasa takut.

Ketiga, Berorientasi pada manfaat luas (*Al-Amal Ash-Shalih*). Etos kerja seorang mukmin tidak semata-mata diukur dari tumpukan materi atau tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat kehadirannya bagi lingkungan sekitar. Semangat dakwah pencerahan mengajarkan kita untuk mentransformasikan potensi diri agar menjadi solusi atas berbagai persoalan umat, kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Ath-Thabarani)

Etos kerja muslim berkemajuan diukur dari seberapa besar manfaat kebaikan yang ia alirkan bagi sesama. Baik sebagai pedagang, pegawai, pejabat, buruh, pendidik, maupun pengusaha, orientasi utama kita adalah menebar maslahat dan kemajuan peradaban.

Kemajuan umat Islam tidak akan pernah terwujud hanya dengan angan-angan kosong dan doa tanpa ikhtiar. Islam Berkemajuan menuntut integrasi nyata antara kemurnian tauhid dan keunggulan amal perbuatan.

Jadilah pribadi muslim yang profesional dalam bekerja, jujur dalam mengemban tugas, pantang menyerah menghadapi tantangan zaman, serta senantiasa siap melayani dan membawa kemaslahatan di manapun kita diamanahi amanah kepemimpinan.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar mampu menjadi pribadi-pribadi yang beretos kerja unggul, berintegritas tinggi, dan mampu memimpin perubahan ke arah yang lebih diridhai oleh Allah.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *