
Di dalam Al Qur’an Allah menegaskan tentang kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia. Allah menyebutkan berbagai fasilitas dan kelebihan yang diberikan khusus kepada anak cucu Nabi Adam AS, sebagaimana disebutkan di dalam QS Al Isra: 70.”Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami bagi mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al Isra: 70).
Pada ayat tersebut di atas terdapat beberapa hal yang perlu kita renungkan. Para ulama membagi bentuk pemuliaan (takrim) dan kelebihan (tafdil) manusia dalam beberapa aspek utama berdasarkan runtutan kalimat di dalam ayat tersebut:
Pertama, Pemuliaan terhadap bani Adam (Al-Takrim). “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” Allah menggunakan istilah karramna (Kami telah memuliakan) yang berlaku bagi seluruh manusia tanpa memandang status sosial, harta, maupun ketaatan awal mereka. Pemuliaan ini tampak pada fisik yang sempurna serta anugerah akal dan pengetahuan (ilmu). Dengan fisik yang sempurna manusia berjalan tegak dengan dua kaki, dapat beraktivitas dengan penuh keleluasaan. Dengan akal dan pengetahuan (ilmu) manusia dapat membangun peradaban, serta menerima syariat agama.
Kedua, Kemudahan mobilitas darat dan laut. “…dan Kami angkut mereka di darat dan di laut…” Manusia diberikan kemampuan untuk menundukkan hewan tunggangan (seperti unta dan kuda) hingga membuat kendaraan modern pada saat ini. Di laut, manusia diberikan kemampuan menjelajahi samudra dengan menciptakan perahu maupun kapal. Dan bahkan saat ini, dengan akal dan ilmunya manusia dapat menjelajahi angkasa dengan pesawat terbang.
Ketiga, Diberikan rezeki dari sumber yang baik-baik (At-Tayyibat). “…dan Kami bagi mereka rezeki dari yang baik-baik…” Manusia menikmati berbagai macam buah-buahan, biji-bijian, daging, dan minuman yang lezat serta beraneka ragam cara penyajiannya. Manusia dianugerahi cita rasa dan kemampuan mengolah makanan. Berbeda dengan binatang yang umumnya memakan makanan yang mentah dan tidak memperhatikan baik atau tidaknya makanan tersebut.
Keempat, Diberikan keunggulan di atas makhluk lain (Al-Tafdil).”…dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” Kelebihan yang diberikan kepada manusia bersifat lahir dan batin, sehingga di dunia ini Allah mengutus para Nabi dan Rasul dari golongan manusia, serta menjadikan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Sebagian ulama berpendapat bahwa manusia yang beriman dan bertakwa bahkan bisa mencapai derajat yang lebih mulia di sisi Allah daripada malaikat karena manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya.
Ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang hebat karena mendapatkan berbagai fasilitas dari Allah, akan tetapi juga mengandung sebuah peringatan kepada manusia untuk bersyukur. Dan untuk mensyukuri nikmat Allah, terdapat tiga cara yang harus kita lakukan:
Pertama, Bersyukur di dalam hati. Yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala kenikmatan yang kita rasakan berasal dari Allah. Merasa cukup atas semua karunia Allah (qona’ah), dan selalu berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah, baik ketika menerima kesenangan maupun ketika menerima ujian.
Kedua, Bersyukur dengan lisan. Rasa syukur yang ada di dalam hati kemudian diwujudkan dengan melafadzkan kalimat thayyibah. Membiasakan mengucapkan “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah) setiap kali mendapatkan kesenangan, atau setelah menyelesaikan sebuah aktivitas, disamping memperbanyak dzikir dengan melafadzkan Allahu Akbar, Subhanallah dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits dijelaskan: “Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang apabila dia makan suatu makanan lalu dia memuji-Nya atas makanan itu, atau apabila dia minum suatu minuman lalu dia memuji-Nya atas minuman itu.” (HR Muslim)
Ketiga, Bersyukur dengan perbuatan. Yaitu dengan menggunakan seluruh nikmat yang diberikan untuk hal-hal yang diridai-Nya, yaitu dengan taat beribadah kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menginfaqkan sebagian harta yang kita miliki untuk berjuang di jalan Allah.
Dengan ketiga hal tersebut semoga kita termasuk orang yang benar-benar mensyukuri nikmat Allah dan karenanya Allah akan menambah-nambah nikmat yang diberikan kepada kita. Janji Allah jelas. Yang bersyukur ditambah. Yang kufur diancam.
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim: 7)
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
