October 10, 2026

wanita-membaca-al-qur'an-dikeramaian

Perkembangan zaman sedemikian cepatnya, dan teknologi semakin maju dengan pesat. Di tengah kehidupan masyarakat saat ini terdapat fenomena media sosial yang semakin mempengaruhi kehidupan manusia. Tren gaya hidup datang silih berganti, dan tidak jarang yang viral dianggap sebagai representasi kebenaran. Padahal menilai sebuah kebenaran tidak bisa hanya karena hal tersebut dibenarkan banyak orang atau karena viral. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar berpegang teguh pada syariat Islam, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh tren di zaman sekarang.

Terkait dengan hal tersebut terdapat beberapa pelajaran yang baik untuk kita fahami, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Jangan menjadikan tren sebagai ukuran kebenaran. Ada sebuah kebiasaan yang mulai muncul di tengah masyarakat, kalau banyak yang melakukan berarti boleh, kalau sedang viral berarti harus diikuti, kalau semua orang melakukannya berarti itu sudah biasa.

Padahal banyaknya orang yang melakukan sesuatu tidak otomatis menjadikan sesuatu itu benar menurut agama. Allah berfirman: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Jadi yang viral belum tentu halal, dan yang disukai orang banyak belum tentu diridai Allah. Orang Islam harus punya prinsip.

Kedua, Tren tidak boleh mengalahkan nilai agama. Islam tidak melarang umatnya mengikuti perkembangan zaman, juga tidak mengajarkan kita untuk menolak teknologi, yang harus kita lakukan adalah menjadikan agama sebagai filter.

Jika terdapat tren baru, amati isinya, lalu pertimbangkan berdasarkan nilai-nilai agama. Yang baik diambil, yang bertentangan dengan syariat ditinggalkan. Contohnya, dalam hal berpakaian, di dalam Islam terdapat prinsip bahwa pakaian haruslah menutup aurat, tidak transparan, tidak ketat, estetik (memiliki nilai keindahan), dan tidak berlebih-lebihan. Maka tren pakaian boleh diikuti asal tidak bertentangan dengan prinsip tersebut.

Dalam berinteraksi di media sosial, kita diperbolehkan mengikutinya, tetapi terdapat batas-batas yang harus dijaga: jangan menyebarkan fitnah, jangan menyebarkan berita yang belum jelas, jangan membuka aib orang lain, jangan membuat konten yang mengandung kemaksiatan, dan gunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat.

Dalam pergaulan, kita diberikan kebebasan berinteraksi dengan siapapun, tetapi tetap menjaga batas pergaulan, menjaga kehormatan diri, menjauhi zina dan hal-hal yang mendekatinya, menjaga ucapan dan akhlak. Allah berfirman: *”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”* (QS. Al-Isra’: 32)

Ketiga, Jangan malu menjadi muslim yang taat. Terkadang seseorang sebenarnya mengetahui bahwa sesuatu itu tidak baik, namun ia tetap melakukannya karena takut dianggap kuno, tidak gaul, ketinggalan zaman dan tidak mengikuti teman serta tidak mengikuti tren. Inilah yang harus kita hindari, karena sebagai seorang muslim harus berani berkata tidak, terhadap hal-hal yang bertentangan dengan agama. Saya memilih yang halal meskipun tidak populer. Saya memilih menjaga kehormatan meskipun orang lain menganggapnya kuno. Rasulullah bersabda: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini mengajarkan kepada kita agar tidak kehilangan identitas dan prinsip sebagai seorang muslim. Yang dilarang adalah meniru cara hidup yang menyimpang dari Islam. Sedangkan memakai teknologi yang halal tidak termasuk kategori meniru orang kafir.

Keempat, Jangan menilai sesuatu hanya dari popularitasnya. Saat ini kita mengenal istilah viral, trending, followers, subscriber, like dan komentar, serta views. Semua itu adalah bagian dari perkembangan teknologi, tetapi jangan sampai ukuran tersebut menggantikan ukuran pahala dan dosa. Jangan sampai kita berpikir, yang penting banyak yang melihat padahal Allah melihat. Yang penting banyak yang menyukai, padahal belum tentu Allah menyukai. Yang penting terkenal, padahal belum tentu terkenal di hadapan Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka di sisi Allah, yang mulia itu yang bertakwa. Bukan yang paling banyak pengikutnya, bukan yang paling banyak dipuji.

Dalam sebuah atsar sahabat riwayat ad-Darimi, Abdullah bin Mas’ud melihat sekelompok orang berkumpul untuk berzikir dengan cara yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah. Mereka menghitung zikir menggunakan kerikil dan menganggapnya sebagai bentuk kebaikan. Kemudian Abdullah bin Mas’ud memberikan peringatan. Pelajarannya: niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang benar dan sesuai tuntunan Rasulullah.

Dari situ kita belajar bahwa niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang benar dan sesuai tuntunan Rasulullah. Jangan jadikan kebiasaan orang sebagai satu-satunya ukuran dalam beribadah.

Kelima, Gunakan teknologi untuk kebaikan. Kita tidak boleh hanya melihat teknologi dari sisi negatifnya saja tetapi teknologi juga bisa menjadi sarana kebaikan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu, mengingatkan kepada kebaikan, membagikan ayat al-Qur’an, membagikan Hadits yang makbul, menyebarkan informasi yang bermanfaat, mendukung kegiatan sosial dan menjalin silaturahmi serta membantu orang lain. Rasulullah bersabda: “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Maka marilah kita bertanya sebelum menggunakan media sosial, yang saya lihat, dengar dan tulis serta bagikan, apakah itu mendekatkan kepada Allah atau justru menjauhkan dari Allah?

Marilah kita mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri. Jangan sampai hafal yang viral, tapi lupa membaca Al-Qur’an, jangan sampai sibuk dicatat manusia, tapi lupa dicatat Allah. Allah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Semoga Allah teguhkan iman kita, perbaiki akhlak kita, dan selamatkan kita di dunia dan akhirat.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *