October 17, 2026

muslim-menjaga-alam

Salah satu anugerah Allah kepada manusia adalah bumi beserta seluruh kehidupan di dalamnya. Ada air yang menyegarkan, tanah yang menumbuhkan, pohon yang menghasilkan buah, dan berbagai makhluk yang saling mendukung kehidupan.

Tumbuhan dan pepohonan bukan sekadar sumber makanan, sumber obat dan penghias lingkungan. Di dalam Al-Qur’an, tumbuhan juga menjadi tanda kekuasaan Allah, yang mengajak manusia mengenal Penciptanya dan meyakini kebangkitan setelah kematian. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 57: “Lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf [7]: 57).

Tanah yang kering dapat kembali menghijau ketika Allah menurunkan hujan. Biji yang kecil tumbuh menjadi tanaman, kemudian menghasilkan buah dan benih baru. Peristiwa yang kita saksikan setiap hari ini merupakan tanda kekuasaan Allah.

Jika Allah mampu menghidupkan bumi yang tandus, maka membangkitkan manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang sulit bagi-Nya.

Kita akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kita.

Karena itu, ketika melihat pohon tumbuh, hujan turun, dan bumi menghijau, janganlah kita hanya melihat keindahannya. Lihatlah tanda kebesaran Allah di dalamnya. Tumbuhkan rasa syukur, perkuat iman, dan sadari bahwa seluruh nikmat itu harus kita jaga.

Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk mengenali tanda-tanda kekuasaan-Nya, tetapi juga mengingatkan agar kita tidak merusak keseimbangan ciptaan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 7-9: “Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman [55]: 7-9).

Apa yang terjadi ketika manusia mengambil hasil alam tanpa memikirkan kelestariannya? Hutan ditebang tanpa pemulihan, sungai dipenuhi sampah, tanah kehilangan daya resap, dan sumber air semakin terancam. Akibatnya, risiko banjir, longsor, kekeringan, dan pencemaran dapat meningkat. Allah mengingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Ayat ini hendaknya menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai kita mengeluh soal banjir, tetapi masih membuang sampah ke sungai. Jangan kita susah karena kekeringan, tetapi membiarkan air terbuang sia-sia. Jangan pula kita menginginkan udara sejuk, tetapi tidak peduli terhadap pelestarian pepohonan.

Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, petugas kebersihan, atau para pegiat lingkungan. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita mulai dari diri sendiri dan dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita.

Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai dan saluran air. Kurangi penggunaan plastik. Hematlah air ketika berwudu, mandi dan kebutuhan sehari-hari. Jangan membuang makanan yang masih layak konsumsi. Tanamlah pohon dan rawatlah hingga tumbuh besar.

Peliharalah tanaman di halaman rumah, jaga kebersihan, dan ajak anak-anak mencintai lingkungan sejak dini.

Jika kita memiliki lahan, tanamilah dengan tanaman yang bermanfaat. Jika tidak punya, rawatlah tanaman dalam pot atau ikutlah menjaga ruang hijau di lingkungan sekitar. Jika belum mampu menanam pohon, setidaknya jangan merusaknya.

Rasulullah saw. mengajarkan bahwa menanam pohon dapat menjadi sedekah, yang potensi pahalanya akan terus mengalir. Beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih tanaman, kemudian burung, manusia, atau hewan memakan hasilnya, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik).

Pohon yang kita tanam dapat memberikan buah bagi manusia, makanan bagi burung, keteduhan bagi orang yang berteduh, dan manfaat bagi lingkungan. Selama manfaatnya terus dirasakan, tanaman itu dapat menjadi jalan kebaikan bagi orang yang menanamnya.

Dalam hadis lain Rasulullah mengajak kita memakmurkan bumi dengan menanam pohon tanpa mengenal waktu. “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad).

Oleh sebab itu, marilah kita mengubah kepedulian menjadi tindakan. Jangan hanya memuji keindahan alam, tetapi ikutlah merawatnya. Jangan hanya berdoa agar terhindar dari bencana, tetapi lakukan ikhtiar untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

Bumi ini bukan hanya untuk kita nikmati hari ini, melainkan juga amanah yang harus kita jaga untuk anak cucu kita.

Jangan sampai generasi mendatang mewarisi sungai yang tercemar, hutan yang rusak, udara yang tidak sehat, dan sumber air yang semakin sulit diperoleh akibat kelalaian kita. Wariskanlah lingkungan yang lebih baik sebagaimana kita berharap menerima kehidupan yang baik dari generasi sebelumnya.

Semoga kesadaran terhadap kekuasaan Allah menjadikan kita manusia yang bersyukur, beriman, dan bertanggung jawab. Semoga setiap langkah kita dalam merawat bumi menjadi amal saleh yang diridai Allah Swt.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : MUI Kabupaten Sleman
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *