
Setiap manusia menginginkan keselamatan. Kita ingin selamat saat dunia, dan yang paling penting, selamat dari azab akhirat. Tetapi keselamatan tidak cukup hanya dengan keinginan. Keselamatan membutuhkan jalan.
Dalam kitab Nashaihul Ibad disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga perkara yang menyelamatkan: takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, hidup sederhana dan seimbang dalam keadaan miskin maupun kaya, serta berlaku adil ketika ridha maupun marah.”
Ada tiga hal yang menjadi jalan untuk memperoleh keselamatan. Yang pertama: Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
Dalam hadis ini, kata sirr (keadaan tersembunyi) didahulukan ketimbang ‘alaniyah (keadaan terang-terangan) menunjukkan bahwa ketaqwaan yang sesungguhnya adalah saat seseorang takut kepada Allah dan menjaga diri dalam keadaan sendiri. Taqwa bukan hanya ketika kita berada di masjid. Bukan pula ketika berada di hadapan orang lain. Taqwa justru terlihat ketika tidak ada manusia yang melihat.
Ketika kita sendirian, tidak ada orang yang mengetahui apa yang kita lakukan, apakah kita masih merasa diawasi Allah? Inilah makna ihsan sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ada orang yang sangat baik ketika berada di depan manusia, tetapi berubah ketika sendirian. Di depan orang ia menjaga lisan, tetapi ketika berada di ruang digital ia mudah menghina. Di depan masyarakat ia terlihat saleh, tetapi ketika tidak ada yang mengetahui ia berani mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Karena itu, ukuran ketakwaan bukan seberapa tampak baik manusia terlihat di hadapan orang lain, tetapi seberapa baik saat kita sendirian. Orang yang memiliki rasa khasy-yatullah akan memiliki pengawas yang tidak pernah tidur. Ia tidak membutuhkan kamera CCTV. Ia tidak membutuhkan manusia untuk mengawasi. Ia tidak membutuhkan pujian untuk berbuat baik. Sebab di dalam hatinya ada keyakinan bahwa Allah Maha melihat, Maha mengetahui.
Jalan keselamatan yang kedua: Hidup seimbang dalam keadaan miskin maupun kaya.
Kata qashd menunjukkan sikap pertengahan, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan. Artinya, seorang mukmin tidak kehilangan sikap tengah-tengah seiring berubah-ubahnya keadaan. Ketika miskin, ia tidak kehilangan harga diri dan tidak menghalalkan segala cara. Ketika kaya, ia tidak bermewah-mewah dan melampaui batas.
Kemiskinan dan kekayaan adalah ujian. Bahkan terkadang ujian kekayaan lebih sulit dilalui daripada kemiskinan. Ketika miskin, orang lebih mudah mengingat Allah. Tetapi ketika kaya, kita bisa lupa bahwa kekayaan adalah titipan. Allah SWT berfirman: “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba berkecukupan.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)
Karena itu, Islam mengajarkan sikap pertengahan. Ketika kaya, harta tidak membuat kita lalai dari syukur. Ketika berkuasa, jabatan tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebaliknya, ketika hidupnya sempit, seorang mukmin tidak kehilangan harapan. Ia tetap bekerja, berusaha, menjaga kehormatan, teguh untuk mencari yang halal.
Jalan keselamatan ketiga: Berlaku adil ketika sedang senang maupun marah.
Ketika kita senang kepada seseorang, kita cenderung menutup mata terhadap kesalahan orang yang kita cintai. Sebaliknya, ketika kita benci kepada seseorang, kesalahan kecil bisa terlihat tampak besar. Karena itu Allah SWT berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Melalui ayat ini Allah mengingatkan agar kita berlaku adil terhadap orang yang kita benci. Sebab ketika kita marah, akal sering kali kalah oleh suasana emosi sehingga tidak bisa melihat kebenaran secara jernih.
Sebab itu, ketika suami marah kepada istrinya, jangan sampai berlaku zalim dan melupakan kebaikan istrinya hanya karena satu kesalahan. Ketika orang tua marah kepada anak, jangan sampai kesalahan itu membuat anak seolah tidak bisa lagi menjadi anak yang baik. Ketika kita berbeda pendapat dengan seseorang, jangan sampai perbedaan pendapat itu membuat kita menganggap seluruh dirinya buruk. Rasulullah SAW mengingatkan: “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Inilah tiga jalan keselamatan. Semoga kita semua bisa menjalani hidup kita dengan berpedoman pada tiga jalan ini, agar kelak kita menjadi orang-orang yang selamat dari azab-Nya.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : MUI Kabupaten Sleman
![]()
