
Ada satu kenyataan yang pasti akan dialami oleh setiap manusia, tetapi kerap kali kita lupa merenungkannya, yaitu; Apa yang sedang kita kejar dan perjuangkan mati-matian hari ini, pada akhirnya akan kita tinggalkan seluruhnya.
Rumah megah yang kita bangun, kendaraan yang kita banggakan, jabatan yang kita perjuangkan, harta yang kita kumpulkan, dan bahkan orang-orang yang sangat kita cintai, semua akan kita tinggalkan.
Lantas; Apa yang akan tetap tinggal bersama kita? Apa yang akan menjadi bekal ketika kelak kita berdiri sendirian menghadap Allah ﷻ?
Inilah pelajaran agung yang hendak kita renungkan melalui firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Kahfi ayat 45–46: “Dan berilah mereka perumpamaan tentang kehidupan dunia, seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi kebajikan yang terus-menerus (Al-Baqiyatu Ash-Shalihat) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 45–46)
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang hakikat kehidupan dunia yang sesungguhnya. Allah ﷻ menggambarkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur karena tersiram air hujan. Pada awalnya tanaman itu terlihat sangat indah; hijau, rindang, dan memanjakan mata. Namun, tidak lama kemudian, musim berganti, tanaman itu mengering, menjadi rapuh, lalu hancur diterbangkan angin.
Demikian pula perjalanan hidup manusia. Kita lahir dalam keadaan lemah tak berdaya, kemudian tumbuh menjadi anak-anak, remaja, hingga dewasa yang penuh kekuatan, memiliki pekerjaan, harta, keluarga, dan kedudukan. Namun waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Masa muda berganti usia tua, kekuatan fisik berangsur surut, harta bisa berkurang, jabatan pasti berakhir.
Islam tidak melarang kita menikmati dunia, akan tetapi dunia bukanlah tujuan karena dunia adalah ladang menanam, sedangkan akhirat tempat kita memanen. Harta boleh dimiliki, keluarga dicintai, dan segala karunia Allah di dalam kehidupan ini dinikmati dengan penuh kesyukuran. Pada ayat tersebut di atas Allah menegaskan bahwa harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Perhiasan berfungsi memperindah, tetapi ia bukanlah tujuan utama.
Harta yang kita upayakan secara halal lalu dibelanjakan untuk menafkahi keluarga, membantu fakir miskin, membangun tempat ibadah, membiayai pendidikan, dan menolong sesama akan bertransformasi menjadi amal saleh. Anak-anak yang kita didik tentang akidah dan akhlak mulia akan menjadi sumber pahala yang tak terputus.
Setelah Allah menyebut harta dan anak sebagai perhiasan dunia, Allah mengenalkan sesuatu yang jauh lebih berharga dan abadi, yaitu: Al-Baqiyatu Ash-Shalihat. Apakah yang dimaksud dengan Al-Baqiyatu Ash-Shalihat itu?
Secara bahasa, Al-Baqiyat berarti sesuatu yang tetap tinggal, bertahan, dan tidak akan pernah lenyap. Sedangkan ash-Shalihat adalah amal-amal yang baik. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-Baqiyatu Ash-Shalihat adalah seluruh amal shalih yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai syariat, yang pahalanya terus mengalir dan kekal di sisi Allah hingga hari kiamat.
Bagaimana menerapkan Al-Baqiyatu Ash-Shalihat dalam kehidupan sehari-hari? Setidaknya ada tiga poin yang bisa kita lakukan, di antaranya:
Pertama, Menjaga lisan dengan dzikir yang disukai Allah. Membiasakan lisan kita untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil, dan bertakbir setiap hari. Dzikir ini tampak ringan di lisan, namun sangat berat dalam timbangan amal di akhirat. ‘Ambillah perisai kalian!’ Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah dari musuh yang datang?’ Beliau menjawab: ‘Bukan, tetapi perisai kalian dari api neraka, yaitu ucapan: Subhanallah, Walhamdulillah, Wa Laa Ilaha Illallah, Wallahu Akbar. Karena kalimat-kalimat itu akan datang pada hari kiamat sebagai penyelamat dari depan, belakang, dan samping. Dan itulah Al-Baqiyatu Ash-Shalihat.’ (HR. Al-Hakim dan An-Nasa’i)
Kedua, Mengoptimalkan ibadah wajib dan sunnah. Shalat lima waktu tepat pada waktunya, disempurnakan dengan shalat-shalat sunnah, puasa, dan zakat. Ibadah yang dikerjakan secara rutin dan konsisten (istiqamah) adalah benteng utama seorang muslim.
Ketiga, Memperbanyak amal kebajikan sosial yang berkelanjutan. Rasulullah ﷺ juga menegaskan keabadian amal ini dalam hadits shahih:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Islam mengajarkan agar keshalihan individu berbanding lurus dengan keshalihan sosial. Sedekah jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, mendidik anak menjadi shalih, serta membantu sesama manusia adalah investasi abadi yang tidak akan terputus pahalanya meskipun kita telah terbaring di dalam kubur.
Boleh jadi selama ini kita terlalu sibuk memperindah rumah tinggal kita di dunia, namun lupa membangun tempat tinggal kita di akhirat. Kita risau memikirkan masa depan finansial anak-anak kita, namun lupa membekali jiwa mereka dengan shalat dan akhlak. Maka, mulai hari ini, marilah kita bangun Al-Baqiyatu Ash-Shalihat. Dimulai dari langkah-langkah sederhana: jaga shalat fardhu tepat waktu, basahi lisan dengan dzikir, sisihkan rezeki untuk sedekah, sambung silaturahmi, maafkan kesalahan sesama, dan lain sebagainya.
Kita tidak pernah tahu kapan jatah umur kita berakhir. Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk beramal, besok belum tentu. Hari ini kita masih bisa bersedekah dan memohon maaf, besok mungkin kesempatan itu telah tertutup rapat. Jangan biarkan umur kita berlalu sia-sia tanpa membawa Al-Baqiyatu Ash-Shalihat.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
