
Sebentar lagi kita akan merayakan ‘Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1447. Momentum Idul Adha membawa kita untuk mengenang kembali peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim As.
Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (Qs. Ash-Shaffat : 102). Terhadap perintah itu, Nabi Ibrahim mengedepankan kecintaan yang tinggi yakni kecintaan kepada Allah dan mengesampingkan kecintaan kepada anak, harta, dan dunia. Sebagaimana firman Allah Wahai orang-orang yang beriman, janganlahharta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (Qs. Al Munafiqun : 9)
Cinta kepada keduniaan adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, akan tetapi jangan sampai mengalahkan cinta kita kepada Allah. Mengapa demikian? Karena secara tegas Allah memberikan ancaman kepada orang yang lebih mencintai sesuatu yang bersifat keduniaan, sebagaimana firman Allah.
“Katakanlah (Hai Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudarasaudaramu, pasangan pasanganmu,keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. At Taubah : 24).
Perintah Allah yang amat berat itu ternyata disambut dengan tulus oleh Ismail As dengan penuh kesabaran. Ismail pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan: Wahai Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. ash-Shaffat: 102).
Setiap kali datang bulan Dzulhijjah, ummat Islam di seluruh dunia menyambut gembira seruan Allah untuk melaksanakan Ibadah Haji. Berjuta juta kaum muslimin berkunjung ke Tanah Haram demi memenui panggilan Allah untuk menunaikan haji meskipun harus dengan bersusah payah menanti dan menabung demi memenuhi panggilan Allah melalui Nabi Ibrahim. Sebagaimana firman-Nya di dalam QS Al Hajj : 27). “Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Qs. Al Hajj : 27).
Demikian pula halnya dalam memenuhi seruan Allah untuk berqurban, umat Islam yang memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan Qurban akan berusaha untuk melaksanakannya, dengan dilandasi keyakinan bahwa bukan darah dan daging hewan itu yang sampai di sisi Allah, tapi ketaatan dan ketaqwaanya. Disamping itu, karena keyakinan bahwa pahala menyembelih hewan qurban itu tak terhingga besarnya, sebagaimana Hadits Nabi Muhammad.
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” [HR. Ibnu Majah].
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut seharusnya menjadi teladan bagi kita, tidak hanya dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah qurban saja, namun juga teladan dalam berjuang dan berkorban dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah secara kaffah. Mari kita mengambil hikmah dari Ibadah Haji dan ibadah Qurban sebagai sebuah perintah untuk lebih mengedepankan ketaatan dan kecintaan kepada Allah dibandingkan dengan kecintaan duniawi semata.
Demikian khutbah yang saya sampaikan teriring doa semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk benar-benar menjadi hamba yang taat dan senantiasa istiqamah. Aamiin.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
