
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa kita sadari, kita telah melewati hari demi hari di bulan Ramadhan, dan kini kita berada di gerbang fase yang paling menentukan, yaitu Sepuluh Hari Terakhir. Ibarat sebuah perlombaan lari maraton, sepuluh hari terakhir ini adalah garis finish-nya. Apa yang dilakukan oleh seorang pelari profesional ketika ia melihat garis finish sudah ada di depan mata? Apakah ia akan bersantai? Apakah ia akan mengurangi kecepatannya? Tentu tidak! Seorang juara akan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, ia akan berlari lebih kencang, ia tidak akan menoleh ke belakang, demi meraih garis kemenangan. Mari kita lihat bagaimana teladan dari Rasulullah menghabiskan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dalam manhaj persyarikatan Muhammadiyah, kita diajarkan untuk senantiasa mengembalikan segala praktik ibadah kepada contoh Rasulullah. Ummahatul Mukminin ‘Aisyah r.a menceritakan bagaimana kebiasaan Nabi di fase akhir Ramadhan ini. Beliau berkata: “Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malammalamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadits diatas dapat kita ambil pelajaran penting:
- Mengencangkan Ikat Pinggang (Syadda Mi’zarahu). Ini adalah kiasan bahwa Rasulullah melipatgandakan kesungguhannya dalam beribadah. Beliau menjauhkan diri dari urusan-urusan duniawi, bahkan membatasi hubungan biologis dengan istri-istrinya (karena beliau ber-i’tikaf), demi memfokuskan fisik dan batinnya hanya untuk bermunajat kepada Allah
- Menghidupkan Malam (Ahya Lailahu). Malam-malam terakhir tidak dilewatkan dengan tidur pulas atau mengobrol sia-sia. Beliau “menghidupkannya” dengan shalat lail, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan merintihkan doa. Di saat manusia terlelap, beliau berdiri menghadap Tuhannya.
- Membangunkan Keluarganya (Aiqazha Ahlahu). Beliau membangunkan istriistrinya, anak-anaknya, untuk ikut serta meraih keberkahan. Inilah tugas kita sebagai kepala keluarga: Jangan biarkan anak dan istri kita asyik bermain gadget (gawai) atau menonton televisi sementara malam-malam mulia ini berlalu begitu saja. Bangunkan mereka, ajak shalat tahajud bersama, ajak tadarus walau hanya beberapa ayat.
Mengapa kita disuruh “berlari lebih kencang” di sepuluh hari terakhir ini? Karena di salah satu malam ganjilnya, terdapat sebuah hadiah terbesar yang pernah Allah berikan kepada umat manusia. Hadiah yang tidak pernah diberikan kepada umat nabi-nabi sebelumnya. Itulah Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan). Allah berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1-3: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3).
Lebih baik dari seribu bulan! Ahli tafsir menghitung, seribu bulan itu setara dengan 83 tahun 4 bulan. Umur umat Nabi Muhammad sangat sedikit yang melampaui usia 80 tahun. Tetapi dengan mendapatkan Lailatul Qadar, nilai ibadah kita pada malam itu, nilai shalat kita, nilai sedekah kita, lebih baik daripada kita melakukannya terus-menerus selama 83 tahun penuh tanpa henti!
Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengejar malam kemuliaan tersebut?
Pertama, Laksanakan I’tikaf. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah , menjauhkan diri dari hirukpikuk duniawi. Jika kita tidak bisa melakukan I’tikaf secara full (penuh) siang dan malam karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, maka lakukanlah di malam harinya saja. Datanglah ke masjid setelah Isya atau di sepertiga malam terakhir, berdiam dirilah, bacalah Al-Qur’an, dan putuslah sejenak hubungan dengan media sosial. Lakukan “detoks digital”. Hati kita butuh istirahat dari urusan dunia untuk bisa tersambung dengan pencipta alam semesta.
Kedua, Berdoa Meminta Ampunan. Inti dari pencarian Lailatul Qadar adalah Ampunan Allah. Ummahatul Mukminin ‘Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, doa apa yang harus aku ucapkan?” Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang sangat singkat namun maknanya seluas lautan.
Kita memohon Maaf (Al-‘Afwu). Apa bedanya dengan Maghfirah (Ampunan)? Maghfirah itu dosa kita diampuni tapi catatannya masih ada. Sedangkan ‘Afwu (Maaf), Allah tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi Allah juga menghapus bersih catatan dosa itu dari buku amal kita, seolah-olah kita tidak pernah melakukannya sama sekali. Betapa kasih sayangnya Allah kepada kita!
Di samping mengejar kesalehan ritual seperti tarawih, qiyamul lail, dan i’tikaf, agama kita juga sangat menekankan keseimbangan dengan kesalehan sosial.
Menjelang berakhirnya Ramadhan, jangan sampai kita melupakan hak orang-orang miskin. Kesempurnaan ibadah puasa kita ditutup dengan kewajiban menunaikan Zakat Fitri. Zakat Fitri bukan sekadar rutinitas akhir bulan puasa, melainkan penambal kekurangan puasa kita.
Puasanya orang kaya dan orang miskin sama di mata Allah, tapi kebahagiaan menyambut lebaran seringkali berbeda. Melalui Zakat Fitri, Islam memastikan bahwa tidak ada seorang pun fakir miskin yang kelaparan atau bersedih di hari raya Idul Fitri. Berikanlah zakat melalui amil (panitia) yang terpercaya di masjid-masjid atau lembaga-lembaga zakat, agar distribusinya merata dan berdaya guna.
Sebagai muhasabah, bisa jadi tahun ini Adalah Ramadhan terakhir kita, Tidak ada satu pun dari kita yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita masih bisa bernapas menghirup udara bulan Ramadhan. Berapa banyak saudara kita, tetangga kita, atau bahkan orang tua kita, yang tahun lalu masih shalat tarawih di samping kita, namun hari ini mereka telah tiada, meninggalkan kita.
Maka, mari kita manfaatkan sisa hari yang sedikit ini untuk “belari lebih kencang”. Kurangi tidurnya, kurangi keluh kesahnya, kurangi main gawainya. Perbanyak sujud, perbanyak tetesan air mata penyesalan. Dengan demikian, semoga ketika Ramadhan berakhir, kita benar-benar keluar sebagai hamba yang kembali pada fitrah(kesucian), karena dosa-dosa kita telah diampuni oleh Allah. Aamiin
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
