Kita baru saja memasuki bulan yang agung. Lisan kita mungkin dengan mudah mengucapkan “Marhaban yaa Ramadhan”(Selamat datang wahai Ramadhan), namun mari kita tanyakan pada hati kita yang paling dalam sudahkah kita menyambutnya dengan perasaan gembira? Atau justru kita merasa berat karena membayangkan haus, lapar, dan rutinitas ibadah yang padat. Hari ini, mari kita luruskan kembali niat dan cara pandang kita terhadap ibadah di bulan Ramadhan. Agar Ramadhan kali ini tidak sekadar menjadi rutinitas menahan lapar, mari kita hadirkan empat prinsip utama dalam ibadah kita.
Pertama, Ibadah itu berlandaskan cinta, bukan keterpaksaan. Mengapa banyak orang merasa berat berpuasa? Karena puasa hanya dianggap sebagai “kewajiban yang menggugurkan tugas”. Padahal, ibadah itu seharusnya dilandasi dengan cinta. Saat kita mencintai seseorang, entah itu pasangan, anak, atau orang tua. Kita rela begadang, rela lelah bekerja, rela berkorban, dan kita tidak merasa itu sebagai sebuah beban. Mengapa? Karena ada cinta di sana. Jika kita mencintai Allah, Dzat yang telah memberikan kita mata untuk melihat, jantung yang selalu berdenyut, dan rezeki yang tak terputus, maka puasa sebulan penuh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan karunia yang telah Allah berikan. Rasulullah bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa adalah rahasia cinta antara kita dan Allah. Tidak ada yang tahu kita berpuasa atau tidak, kecuali diri kita dan Allah. Maka, mari kita jalani puasa ini dengan cinta, seolah-olah kita sedang memberikan hadiah terbaik untuk Sang Pencipta.
Kedua, Tilawah dengan hati, bukan sekadar adu cepat. Di bulan Ramadhan, masjid-masjid dan rumah-rumah semarak dengan lantunan Al-Qur’an. Ini adalah hal yang sangat baik, namun akan lebih baik lagi jika kita tidak terjebak pada ambisi yang sifatnya hanya pada sisa kuantitas. Dimana kita seakan-akan berlomba-lomba adu cepat mengkhatamkan Al Qur’an berkali-kali, lisan membaca melesat secepat kila, tanpa hati kita ikut menyimaknya. Mengkhatamkan Al-Qur’an itu sunnah dan mulia, tapi memahami Al-Qur’an (tadabbur) adalah tujuan utamanya. Mari kita mulai merubah cara tilawah kita. Jika kita tidak paham bahasa Arab, siapkan Al Qur’an terjemahan. Baca satu halaman, lalu baca terjemahannya. Biarkan ayat-ayat Allah itu berbicara kepada hati kita yang sedang resah. Biarkan janji surga membuat kita tersenyum, dan ancaman neraka membuat kita meneteskan air mata. Tilawah pakai hati akan mengubah hidup kita, bukan sekadar membasahi bibir kita.
Ketiga, Tarawih itu rehat dari dunia, waktunya curhat kepada Allah. Istilah Tarawih secara bahasa berasal dari kata tarwiihah yang artinya “istirahat” atau “bersantai”. Dahulu, para sahabat Nabi ketika shalat malam di bulan Ramadhan, mereka beristirahat sejenak setiap selesai 4 rakaat karena saking panjang dan nikmatnya shalat mereka. Tapi saat ini kita kadang melihat realitas dimana Tarawih berubah menjadi “perlombaan lari cepat”. Tidak sedikit yang berangkat tarawih mencari masjid yang shalatnya paling kilat. dimana ruku’ dan sujud tidak ada tuma’ninah (ketenangan). Bagaimana mungkin kita bisa merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah jika napas kita tersengal-sengal? Dunia ini sudah terlalu melelahkan. Siang hari kita lelah bekerja, mencari nafkah, menghadapi berbagai macam masalah, maka mari jadikan shalat Tarawih sebagai momen “Rehat dari Dunia”. Matikan sejenak handphone kita, tinggalkan sejenak urusan duniawi. Pada saat sujud, tumpahkan semua kelelahan kita, curhat-lah kepada Allah, dan mintalah ampunan kepadaNya.
Keempat, Sedekah dan wakaf, berikanlah yang terbaik. Ramadhan adalah bulan kedermawanan. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan tiba, ibarat angin yang berhembus kencang. Bisa jadi saat bersedekah kita mencari lembaran uang yang paling lecek di dompet. Saat memilah baju bekas untuk disumbangkan, kita berikan yang sudah pudar warnanya. Padahal, Allah memberikan teguran keras: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menakahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92). Jika kita punya rezeki, berikanlah sedekah dan wakaf yang terbaik. Berilah makanan berbuka yang paling enak, yang bahkan kita sendiri sangat ingin memakannya. Jika berwakaf, wakafkanlah melalui lembaga yang terpercaya (seperti Lazismu) dengan niat yang tulus. Harta yang kita makan akan jadi kotoran, pakaian yang kita pakai akan usang, tapi harta yang kita sedekahkan dan wakafkan dengan niat yang ikhlas, itulah yang akan kekal menemani kita di alam kubur.
Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini berbeda. Jadikan puasa kita penuh cinta, tilawah kita penuh penghayatan, tarawih kita sebagai waktu curhat kepada Sang Khaliq, dan sedekah kita adalah persembahan terbaik. Bisa jadi, ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini
Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
![]()
