April 14, 2026

langit malam dengan tulisan Allah

Kita sering mempelajari tentang Rukun Iman yang enam. Kita hafal di luar kepala tentang iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, serta Qadha dan Qadar. Itulah yang kita sebut sebagai ilmu Aqidah. Namun, khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk merenung sejenak. Adakah Aqidah yang kita pelajari itu hanya berhenti sebagai pengetahuan di kepala? Ataukah ia sudah meresap ke hati dan menyatu dalam setiap tarikan napas dan langkah kaki kita? Manhaj Muhammadiyah mengajarkan kita bahwa aqidah adalah fondasi utama. Tanpa fondasi yang lurus dan kuat, amal shalih setinggi gunung pun tidak akan bernilai di hadapan Allah. Namun, aqidah dalam pandangan Islam bukan sekadar teologi teoritis, bukan sekadar perdebatan tentang sifat-sifat Allah, melainkan iman yang membuahkan amal.

Aqidah yang benar adalah aqidah yang menghujam kuat di dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Ia menjadi way of life, pola pikir, dan kompas yang mengarahkan ke mana hidup ini akan dibawa. Jika seseorang mengaku ber-aqidah Laa ilaha illallah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, maka konsekuensinya dia tidak akan takut kepada siapa pun selain Allah, tidak akan menggantungkan harapannya kepada jin, dukun, jimat, atau kekuatan mistis apa pun. Kemurnian ibadahnya terjaga, hanya untuk Allah.

Oleh karena itu, marilah kita bahas lebih mendalam beberapa poin penting tentang bagaimana menjadikan aqidah sebagai pegangan hidup kita:

Pertama: Aqidah adalah pondasi Tauhid yang murni. Aqidah adalah pintu gerbang utama untuk memahami dan mengamalkan Islam secara kaffah. Inti dari aqidah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam segala aspek-Nya. Bukan hanya sekadar mengakui keberadaan-Nya, namun juga mengesakan-Nya dalam rububiyah (penciptaan, pengaturan, dan kepemilikan alam semesta), uluhiyah (hak untuk disembah dan diibadahi), serta asma wa sifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia).
Tauhid Rububiyah mengajarkan kita bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur alam semesta. Keyakinan ini menghilangkan segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah. Ketika kita sakit, kita tahu penyembuh hakiki adalah Allah. Ketika kita dalam kesulitan, kita tahu penolong sejati adalah Allah. Ini membebaskan jiwa dari belenggu ketakutan kepadamakhluk.
Tauhid Uluhiyah adalah pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak. Semua ibadah kita, mulai dari shalat, zakat, puasa, haji, doa, tawakkal, hingga meminta pertolongan, haruslah ditujukan hanya kepada-Nya. Inilah titik krusial yang sering kali terkikis oleh praktik-praktik yang menyimpang seperti memintaminta kepada kuburan, bergantung kepada bendabenda keramat, atau meyakini kekuatan gaib selain dari Allah. Manhaj Muhammadiyah sangat tegas dalam memerangi segala bentuk syirik dan bid’ah yang merusak kemurnian tauhid uluhiyah ini. Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36) Ayat ini menegaskan misi para rasul adalah menyeru manusia untuk menyembah Allah semata dan menjauhi segala sesuatu yang disembah selain Allah. Tauhid Asma wa Sifat adalah keyakinan bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat yang sempurna, yang wajib kita imani sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, tanpa tahrif (mengubah), ta’til (meniadakan), takyif (mengumpamakan), atau tamtsil (menyerupakan). Pemahaman yang benar tentang Asma wa Sifat Allah akan menumbuhkan rasa cinta, takut, harap, dan agung dalam hati kita kepadaNya.

Kedua, Aqidah yang lurus adalah sumber ketenangan jiwa dan ketenangan Hati. Di tengah hiruk pikuk dunia, di antara berbagai problema dan ujian yang tak ada habisnya, hati manusia seringkali dilanda kegelisahan, ketakutan, dan kehampaan. Namun, bagi seorang mukmin yang memiliki aqidah yang kokoh, hatinya akan senantiasa merasa tenang dan tenteram. Mengapa? Karena ia yakin bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman dan kehendak Allah. Ia tahu bahwa rezeki, jodoh, maut, musibah, dan kebahagiaan, semuanya telah Allah takdirkan. Ketika musibah datang, hatinya tidak mudah patah karena ia meyakini bahwa di balik setiap takdir ada hikmah. Ketika ia bersedih, ia tahu ada Dzat Yang Maha Mendengar segala keluhan. Ketika ia berjuang, ia yakin ada Dzat Yang Maha Memberi balasan terbaik. Keyakinan inilah yang menjadi penawar segala kegundahan, karena ia telah menyerahkan segala urusannya kepada Rabb semesta alam. Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketiga, Aqidah adalah “Kompas” penuntun bagi setiap amal perbuatan. Setiap perbuatan, perkataan, dan keputusan yang diambil oleh seorang mukmin haruslah berlandaskan pada aqidahnya. Aqidah yang benar mengajarkan kita untuk mengikhlaskan segala amal hanya untuk Allah semata, bukan untuk pujian manusia, bukan untuk mengejar kedudukan, apalagi untuk mencari keuntungan duniawi semata. Keikhlasan ini adalah syarat utama diterimanya suatu amal di sisi Allah. Bayangkanlah, shalat kita, puasa kita, zakat kita, haji kita, bahkan senyum kita kepada sesama, jika tidak dilandasi oleh keyakinan yang kuat tentang Allah dan Hari Akhir, maka semua amal tersebut tidak ada nilainya dihadapan Allah. Aqidah yang benar membimbing kita untuk selalu bertanya, “Apakah perbuatan ini diridhai Allah? Apakah ini sesuai dengan sunnah Rasulullah ?”. Di dalam QS Al Kahfi:110 Allah  berfirman:
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini dengan jelas menghubungkan harapan akan akhirat (bagian dari aqidah) dengan amal saleh yang tulus (tidak menyekutukan Allah). Tanpa aqidah yang menjadi pegangan, seseorang mungkin berbuat baik, namun motifnya bisa jadi adalah pujian sosial, reputasi, atau tujuan duniawi lainnya. Ini tidak akan memberikan pahala yang sempurna di sisi Allah. Keempat, Aqidah adalah benteng kokoh dari berbagai fitnah dan kesesatan. Kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Gelombang pemikiran asing, ideologi-ideologi menyimpang, gaya hidup hedonis, serta serangan terhadap nilai-nilai agama begitu gencar. Tanpa benteng aqidah yang kuat, seorang Muslim akan mudah terombang-ambing, terbawa arus, dan akhirnya tersesat. Aqidah yang lurus akan menjadi filter yang menyaring segala informasi dan pemahaman yang masuk. Ia akan menjaga kita dari syirik modern.

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Ayat ini dengan jelas menghubungkan harapan akan akhirat (bagian dari aqidah) dengan amal saleh yang tulus (tidak menyekutukan Allah). Tanpa aqidah yang menjadi pegangan, seseorang mungkin berbuat baik, namun motifnya bisa jadi adalah pujian sosial, reputasi, atau tujuan duniawi lainnya. Ini tidak akan memberikan pahala yang sempurna di sisi Allah. Keempat, Aqidah adalah benteng kokoh dari berbagai fitnah dan kesesatan. Kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Gelombang pemikiran asing, ideologi-ideologi menyimpang, gaya hidup hedonis, serta serangan terhadap nilai-nilai agama begitu gencar. Tanpa benteng aqidah yang kuat, seorang Muslim akan mudah terombang-ambing, terbawa arus, dan akhirnya tersesat. Aqidah yang lurus akan menjadi filter yang menyaring segala informasi dan pemahaman yang masuk. Ia akan menjaga kita dari syirik modern,

Maka jelaslah bagi kita, bahwa aqidah bukanlah sekadar teori, Ia adalah inti sari kehidupan seorang Muslim, pegangan yang menuntun kita dalam setiap pilihan, ucapan, dan perbuatan. Mari kita terus mengkaji aqidah kita, memperkuatnya, dan senantiasa berusaha agar setiap aspek kehidupan kita mencerminkan keyakinan yang tulus dan murnikepada Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan tauhid yang lurus.

Demikian khutbah singkat yang dapat saya sampaikan, semoga dapat lebih menyemangati kita untuk senantiasa menjaga tali silaturami, yang karenanya kita akan mendapatkan banyak keutamaan. Aamiin.

Penjelasan secara terperinci terkait hal tersebut dapat dilihat dalam materi Khotbah / Khutbah Jum’at di bawah ini

Sumber : Group Whatsapp Majelis Tabligh PDM Bantul
tombol-unduh-download-pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *